Kapan Batas Waktu Pelaksanaan Aqiqah?

Kapan Batas Waktu Pelaksanaan Aqiqah?
Kapan Batas Waktu Pelaksanaan Aqiqah?

Seperti yang kita tahu, setiap muslim yang lahir ke dunia harus digadaikan dengan proses aqiqah. Namun, sepertinya tak semua orangtua mampu menyelenggarakan ibadah tersebut tepat pada waktunya. Lalu, adakah batas waktu pelaksanaan aqiqah?

Aqiqah adalah ibadah yang dilakukan orangtua, dengan menyembelih kambing/domba pada kelahiran anaknya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk syukur dan sebuah jalan mencari ridha Allah SWT. Hal tersebut tertuang dalam hadits Rasulullah SAW yang berbunyi :

 “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ke tujuh, dicukur (rambutnya), dan diberi nama.” (HR. Tirmidzi no. 2735, Abu Dawud no. 2527, Ibnu Majah no. 3165. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dalam kitab al-Irwa’ no. 1165).

Seperti yang tertuang di hadits tersebut, aqiqah dilaksanakan di hari ke-7 kelahiran bayi. Namun, banyak orangtua yang tak mampu melaksanakan ibadah ini. Salah satu alasan utamanya ialah karena faktor ekonomi.

Untuk hal ini, banyak ulama yang berbeda pendapat. Sebagian ulama mengharuskan aqiqah dilaksanakan di hari ke-7, bersamaan dengan pemberian nama anak. Sebagian yang lain membolehkannya hingga nifas ibunya selesai, bahkan dibolehkan hingga kapan pun saat orangtuanya mampu.

Baca Juga : Menunda atau Meniadakan Aqiqah, Berdosakah?

Kalau ditilik dari hukumnya, aqiqah hukumnya sunnah muakkad. Artinya, aqiqah adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan untuk dikerjakan.

Bagi kalangan Syafiiyah, batas waktu pelaksanaan aqiqah ialah kapan pun hingga anaknya berusia baligh. Setelah ia baligh, gugur sudah kewajiban orangtua untuk mengaqiqahkan anaknya. Lain halnya dengan Malikiyah,  yang berpendapat bahwa aqiqah harus dilakukan di hari ke-7 bayi, jika terlewat maka ibadah tersebut sudah tak berlaku lagi.

Selain itu, beberapa ulama juga membolehkan anak untuk mengaqiqahkan dirinya sendiri, jika usianya lewat baligh. Menurutnya, kata ‘tergadai’ dalam hadits rasul tentang aqiqah artinya harus ditunaikan kapanpun dan oleh siapapun. Ketika kewajiban orangtua gugur saat anak beranjak dewasa, maka hal itu turun ke anak.

Pernyataan tersebut juga didukung dengan salah satu riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW mengaqiqahkan dirinya sendiri ketika ia telah menjadi nabi. Walaupun begitu, Allah SWT tidak memberatkan hambanya dalam beribadah kepadanya.